foto4

JAKARTA – Belum juga genap 100 hari Presiden Joko Widodo (Jokowi) berkuasa. Namun, sudah banyak kebijakannya yang membuat rakyat Indonesia hidupnya semakin sengsara. Salah satunya adalah kenaikan harga bahan bakar minya (BBM).

Meskipun pada awal Januari Jokowi menurunkan harga BBM, tapi Wakil Ketua DPR Fadli Zon mengkritik keputusan tersebut. Menurutnya, harga BBM tidak mengalami penurunan.

“‎Kalau dikatakan turun harus sesuai harga sebelum dinaikkan. Jika sekarang ini bukan turun, masih tetap naik. Jadi seharusnya justru dibawah Rp 6.500,” kata Fadli di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (6/1).

Menurut politikus Partai Gerindra ini, pemerintah Jokowi seperti sedang berakrobatik dalam mengeluarkan kebijakan. Alhasil, masyarakat melihat seolah-olah harga BBM turun. Padahal, harga BBM itu dinaikkan terlebih dahulu sebelum diturunkan. Kebijakan ini justru membuat kehidupan masyarakat semakin sulit.

“Pemerintahan sekaran ini justru membuat kehidupan masyarakat semakin sulit, harga BBM naik, harga listrik naik,‎” tuturnya.

Seperti diberitakan, pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla mengumumkan harga baru BBM yang mulai berlaku pada 1 Januari 2015 pukul 00.00 WIB.

Pemerintah hanya akan memberikan subsidi bagi BBM jenis tertentu, yakni minyak tanah dengan harga Rp2.500 per liter dan solar dengan harga Rp7.250 per liter.

Dalam hal ini pemerintah mencabut subsidi BBM jenis premium (RON 88) sehingga harga premium menjadi turun dari sebelumnya, yakni dari Rp 8.500 per liter menjadi Rp7.600 per liter. [robiawan/voa-islam.com]

Sumber : Voa-Islam