5:49 pm - Friday July 20, 2018

STMIK PRINGSEWU GELAR SARASEHAN KEBANGSAAN

IMG-20180428-0001

STMIK PRINGSEWU – Sabtu (28/4), Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) Pringsewu menyelenggarakan sarasehan kebangsaan dengan tema “Dalam Rangka Membendung Arus Radikal dan Terorisme di Wilayah Hukum Polda Lampung” bertempat di Aula Lt. II Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) Pringsewu.

Sarasehan Kebangsaan dengan tema “Dalam Rangka Membendung Arus Radikal dan Terorisme di Wilayah Hukum Polda Lampung” menghadirkan narasumber Kombes Pol Yosi Hariyoso (Kepala Biro Operasi Polda Lampung), Ken Setiawan (Mantan Komandan Negara Islam Indonesia) dihadiri Kepala Kesbangpol Pringsewu Sukarman, Wakil Ketua I Bidang Akademik Elisabet Y. A, M.T.I, Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan Nur Aminudin, M.T.I, Ka. LPPM M. Muslihudin, M.T.I, Kaprodi Sistem Informasi Tri Susilowati, M.T.I, Kaprodi Manajemen Informatika Oktafianto, M.T.I serta bapak ibu dosen STMIK Pringsewu.

DSC_0020

Sarasehan Kebangsaan dibuka Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan STMIK Pringsewu, Nur Aminudin mengatakan, tujuan dari diadakan Sarasehan Kebangsaan ini untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap pentingnya negara kesatuan republik indonesia. Sehingga diharapkan mahasiswa memiliki Interpretasi yang tepat terhadap nilai-nilai Pancasila, untuk dapat diaplikasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bangsa adalah roh suatu negara, bangsa yang kokoh kuat, bersatu padu yang memiliki jati diri kuat pasti mampu membangun bangsanya menjadi bangsa yang adil makmur sejahtera. Untuk memperkuat kokohnya persatuan dan kesatuan bangsa, kita harus terus memupuk modal sosial bangsanya agar terus tumbuh di masyarakat, rasa saling memiliki di antara sesama anak bangsa akan menumbuhkan sinergi dan harmoni. Karena kita percaya bahwa sikap dan tindakan setiap anak bangsa dilandasi rasa saling memiliki atas bangsa ini, ucapnya.

DSC_0027

Kapolsek Pringsewu Kompol Andik Purnomo Sigit mewakili Kombes Pol Yosi Hariyoso menyampaikan beberapa hal berkaitan dengan 4 pilar kebangsaan; Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhineka Tunggal Ika.

Kompol Andik Purnomo Sigit mengatakan, persatuan dan kesatuan yang sudah masyarakat Kabupaten Pringsewu jalin selama ini harus ditingkatkan lagi. Tentu ini harus melalui peran serta semua Element masyarakat Kabupaten Pringsewu, Lampung, ya termasuk mahasiswa STMIK Pringsewu sendiri.

Melalui kegiatan seperti ini diharapkan dapat meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan kita, semua itu seharusnya dapat terwujud jika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara mengacu pada empat pilar kebangsaan dan terutama Pancasila sebagai pemersatu bangsa. Seluruh elemen masyarakat, mahasiswa STMIK Pringsewu diharapkan bisa berperan serta didalam menjaga kerukunan umat beragama.

Kompol Andik Purnomo Sigit meminta masyarakat untuk mewaspadai gerakan radikalisme dan terorisme. Pasalnya, hal tersebut sangat mungkin ditumpangi kepentingan yang akhirnya akan memecah belah persatuan. Untuk itu, salah satu langkah yang dapat dilakukan dalam merajut nilai-nilai kebhinekaan adalah membangun kembali ruang-ruang toleransi dan keberagaman sejak dini, ucapnya.

DSC_0029

Sementara Mantan pentolan Negara Islam Indonesia (NII) sekaligus pendiri NII Crisis Center Ken Setiawan hadir didalam Sarasehan Kebangsaan dengan tema “Dalam Rangka Membendung Arus Radikal dan Terorisme di Wilayah Polda Lampung”.

Kali ini Ken Setiawan membeberkan betapa bahayanya radikalisme atas keutuhan NKRI. Dalam kesempatan tersebut, Ken juga menyampaikan pengalamannya bahwa radikalisme yang dulu dianut justru bertentangan dengan ajaran Islam yang sesungguhnya. Mereka menghalalkan segala cara dengan alasan bahwa saat ini seperti kondisi perang, termasuk menyebarkam hoax agar masyarakat terprovokasi. ”Banyak sekali pemuda yang terpengaruh paham radikal, menyimpang dari ajaran Islam. Sehingga terpengaruh mengikuti jihad yang salah yg merupakan langkah teroris untuk memusuhi sesama warga Indonesia,” ucapnya.

Menurutnya, saat ini generasi muda rawan direkrut menjadi anggota kelompok radikal karena terpengaruh terhadap teman atau orang yang baru di kenal dengan menyampaikan doktrin radikal yg sugestinya adalah memakai hukum Islam. Hal itu karena para pemuda dalam perjalanan pencarian jati diri, sehingga keyakinan yang dimiliki mudah goyah. Mereka seperti multilevel marketing, orang yang sudah terekrut punya tanggung jawab merekrut orang lain lagi sebab itu dianggap dakwah dan jihad.

Kelompok radikal berusaha meyakinkan agar korban ragu terhadap agama yg dia anut dan ragu terhadap negara saat ini sehingga menyakinkan untuk pindah ke Negara Islam. Mereka menjelaskan terhadap jamaah baru bahwa orang yang tidak menganut hukum Islam, dianggap kafir dan halal darahnya atau layak untuk dibunuh.

”Ini yang kemudian menjadi cikal bakal gerakan radikalisme yang arahnya menuju terorisme,” kalau radikalisme pemikiran di biarkan, maka 10 tahun kedepan akan sangat membahayakan keutuhan dan kedaulatan bangsa, tandasnya.

Menurut Ken Setiawan, Intoleransi merupakan pintu awal dan satu paket dengan radikal dan terorisme. Mereka itu menganggap hanya diri dan kelompoknya saja yang benar, yang lain salah, diri dan kelompoknya saja yang masuk surga sementara kelompok lain semua masuk neraka.

Mantan pentolan Negara Islam Indonesia (NII) sekaligus pendiri NII Crisis Center Ken Setiawan memberikan tips antisipasi; Pelajari Islam dengan paripurna kepada ahlinya, Kenali modus perekrutan kelompok radikal dan gerakan radikal lainnya, Tolak dengan tegas bila mulai diajak kajian yang sembunyi-sembunyi, Berdialog kepada orang lain bila mendapatkan materi Islam yang tidak dimengerti, Kritis walaupun dalam konteks agama agar tidak mudah tersugesti yang merupakan pintu awal perekrutan. (*na)

Filed in: BEM, Info Kampus, Info Penting, Umum

Leave a Reply