SEMINAR NASIONAL “MEA”

KETUA YAYASAN

STMIK PRINGSEWU – Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) banyak yang harus di persiapkan dari segi sumber daya manusia dan juga dari segi ekonomi. Masyarakat di luar negeri akan bisa bekerja di Indonesia apabila memenuhi kriteria yang ada di perusahaan Indonesia, sehingga persaingan akan semakin sulit. Karena itulah mahasiswa/i STMIK Pringsewu harus di beri bekal untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). STMIK Pringsewu mengadakan “Seminar Nasional Career Preparation menghadapi MEA 2016″ dengan menghadirkan sebagai narasumber RUSTAM FAUZI, S.E., M.Ak. (Head of Career & Alumni Relation Universitas Bakrie Jakarta) di Auditorium STMIK Pringsewu. Sabtu (11/4)

Seminar tersebut dibuka oleh Ketua Lembaga Pendidikan Starteck Pringsewu Lampung, Hi. Fauzi,S.E,M.Kom,Akt,CA,CSRS, di hadiri Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pringsewu, Ketua STMIK Pringsewu, Hj. Rita Irviani,S.E,M.M, diikuti Dosen, mahasiswa STMIK Pringsewu, serta perwakilan dari perguruan tinggi yang ada di Kabupaten Pringsewu.
RUSTAM FAUZI

Dalam pemaparannya RUSTAM FAUZI, S.E., M.Ak., mengatakan. Kesuksesan yang kita raih bukan karena tiba-tiba kita dapatkan, namun melalui proses perjuangan yang kita hadapi. Kesiapan kita untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yaitu kerjasama bidang ekonomi antar negara di Kawasan Asia Tenggara, Indonesia harus menyiapkan diri sebaik mungkin agar mampu mempunyai daya saing dengan negara-negara lain di Asia Tenggara.

Menurut RUSTAM FAUZI, S.E., M.Ak. yang harus dipersiapkan untuk menghadapi daya saing ada 12 pilar kekuatan daya saing sebuah negara, yaitu :
1. Institusi;
2. Infrastruktur;
3. Ekonomi Makro;
4. Kesehatan;
5. Pendidikan Dasar dan Menengah;
6. Pendidikan Tinggi;
7. Pelatihan;
8. Efisiensi pasar Komuditas Barang dan Jasa;
9. Efisien Pasar Tenaga Kerja;
10. Efisien Pasar Uang;
11. Kesigapan Teknologi dan
12. Inovasi Proses.
MEA-1

Lebih jauh RUSTAM FAUZI, S.E., M.Ak, menjelaskan berkaitan tentang perlunya membekali diri soft skill dan Hard Skill, soft skill yaitu ketrampilan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain (inter Personal Skills) dan ketrampilan dalam mengatur dirinya sendiri (Intra-personal Skills) yang mampu mengembangkan unjuk kerja secara maksimal. Soft skills membuat keberadaan seseorang akan semakin terasa di tengah masyarakat. Dengan soft skills seseorang akan memiliki keterampilan akan berkomunikasi, keterampilan emosional, keterampilan berbahasa, keterampilan berkelompok, memiliki etika dan moral, santun, dan keterampilan spiritual. Soft skills berkontribusi pada berbagai bidang kehidupan, meliputi kepemimpinan, pengelolaan aktivitas, pengelolaan sumber daya dan pengelolaan informasi. Jadi terlihat betapa pentingnya soft skills bagi setiap orang. Sedangkan Hard Skill adalah kemampuan yang dapat menghasilkan sesuatu yang visible dan immediate, pungkasnya.

Dalam kesempatan itu Rustam Fauzi membedah juga perlunya berfikir kritis dan mengapa kita harus berpikir kritis, serta beberapa cara untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis.
MEA-2